Budaya Perusahaan

Spill the Tea! Tren Gaya Kerja Gen Z 2024: No More Burnout, Saatnya Slay dan Set Boundary!

TA

Tasya Indah Syafitri

Penulis

02 July 2026
35 views

Milenial Minggir Dulu, Saatnya Gen Z Bersuara di Dunia Kerja!

Kalau kita scroll TikTok atau Reels belakangan ini, fyp kita pasti nggak jauh-jauh dari konten dunia kerja anak muda. Mulai dari parodi meeting yang penuh sindiran halus, keluh kesah menghadapi atasan yang toxic, sampai tren gaya hidup 'very demure, very mindful' yang kini merambah ke ranah profesional. Gen Z, alias generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, bener-bener membawa angin segar sekaligus revolusi besar di dunia kerja. Nggak ada lagi tuh istilah 'nurut aja demi loyalitas' kalau ujung-ujungnya bikin kesehatan mental hancur lebur.

Generasi ini sangat vokal menyuarakan pentingnya work-life balance, transparansi gaji, dan lingkungan kerja yang sehat. Bagi mereka, bekerja bukan lagi sekadar bertahan hidup dan menumpuk pundi-pundi rupiah dengan mengorbankan segalanya, melainkan bagian dari aktualisasi diri yang harus berjalan selaras dengan kebahagiaan personal. Yuk, kita spill the tea lebih dalam soal tren gaya kerja masa kini yang lagi viral!

Tren Very Demure, Very Mindful di Kantor: Gaya Kerja Elegan Tanpa Drama

Pernah dengar istilah 'very demure, very mindful' yang lagi berseliweran di media sosial? Istilah yang dipopulerkan oleh kreator konten Jools Lebron ini mengajarkan kita untuk bersikap sopan, tidak berlebihan, dan penuh kesadaran dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk di tempat kerja. Di dunia profesional, menerapkan konsep ini berarti kamu tahu kapan harus bekerja keras dan kapan harus mundur sejenak untuk mengambil napas.

Gaya kerja 'demure' ini mengajarkan Gen Z untuk bersikap elegan saat menghadapi tekanan. Alih-alih langsung emosi atau burnout karena beban kerja yang mendadak overcapacity, mereka lebih memilih untuk mengomunikasikannya dengan tenang namun tegas. Ini adalah bentuk evolusi dari gaya kerja impulsif menjadi lebih terencana dan sehat bagi psikologis.

Quiet Quitting vs Kerja Slay: Mana Pilihanmu?

Sebelum tren demure ini meroket, kita sudah lebih dulu akrab dengan istilah 'quiet quitting'. Banyak yang salah kaprah dan mengira ini adalah aksi mogok kerja atau malas-malasan. Padahal, esensi sebenarnya dari quiet quitting adalah bekerja sesuai dengan job description yang tertulis di kontrak tanpa perlu lembur tanpa dibayar atau mengambil tanggung jawab ekstra yang di luar batas kewajaran.

Baca juga: Quiet Quitting vs Kerja Slay: Tren Work-Life Balance Khas Gen Z Biar Bebas Burnout!

Di sisi lain, ada juga tren 'kerja slay'. Berbeda dengan quiet quitting yang terkesan pasif, kerja slay adalah kondisi di mana kamu tetap memberikan performa terbaik, inovatif, dan outstanding di kantor, tetapi tetap memiliki batasan yang jelas agar kehidupan pribadimu tidak terganggu. Kerja slay menekankan pada efisiensi: kerja cerdas, bukan sekadar kerja keras sampai tipes. Keduanya menunjukkan bahwa anak muda zaman sekarang tidak lagi memuja hustle culture yang destruktif.

Spill the Tea: Red Flags Tempat Kerja yang Bikin Kena Mental

Nggak bisa dimungkiri, salah satu topik yang paling sering viral di media sosial adalah tentang kultur kantor yang toksik. Mulai dari bos yang suka menghubungi di luar jam kerja, rekan kerja yang hobi menusuk dari belakang, hingga beban kerja gila-gilaan yang tidak sebanding dengan kompensasi. Gen Z terkenal sebagai generasi yang paling cepat menyadari tanda-tanda atau red flags ini.

  • Komunikasi Tanpa Batas Waktu: Atasan yang hobi mengirimkan pesan WhatsApp soal kerjaan di hari Minggu malam atau jam 10 malam.
  • Gaslighting Profesional: Kalimat-kalimat manipulatif seperti "Kamu harusnya bersyukur bisa kerja di sini" saat kamu meminta hak atau mengeluhkan beban kerja.
  • Favoritisme dan Politik Kantor: Promosi atau apresiasi yang diberikan bukan berdasarkan performa objektif, melainkan kedekatan personal alias "anak emas".
  • Overworking Terbuka: Budaya bangga lembur setiap hari seolah-olah itu adalah prestasi, padahal itu tanda manajemen waktu yang buruk.

Membedakan Boss vs Leader yang Sehat

Budaya kerja yang sehat dimulai dari kepemimpinan yang suportif. Seorang 'boss' cenderung hanya memberi perintah dan menuntut hasil tanpa peduli prosesnya, sementara seorang 'leader' akan membimbing, mendengarkan masukan, dan peduli pada perkembangan karier serta kesejahteraan mental timnya. Tempat kerja dengan leader yang baik biasanya memiliki tingkat retensi karyawan yang tinggi karena mereka merasa dihargai secara manusiawi.

Rahasia Tetap Slay: Cara Gen Z Bikin Boundary yang Kokoh

Bagaimana caranya agar kita bisa tetap produktif tapi terhindar dari burnout? Jawabannya ada pada satu kata kunci: boundary alias batasan. Membuat batasan yang sehat di tempat kerja bukanlah tanda bahwa kamu tidak profesional atau malas. Justru, ini adalah tanda bahwa kamu menghormati dirimu sendiri dan kualitas kerjamu.

"Setiap kali kamu berkata 'ya' pada pekerjaan ekstra di luar kapasitasmu demi menyenangkan orang lain, kamu sebenarnya sedang berkata 'tidak' pada kesehatan mentalmu sendiri."

Untuk bisa menerapkan hal ini, kamu perlu melatih kemampuan asertif. Katakan "tidak" dengan cara yang sopan dan profesional saat beban kerjamu sudah melampaui batas yang wajar. Misalnya, daripada langsung menolak mentah-mentah, kamu bisa memberikan alternatif solusi atau skala prioritas yang logis kepada atasanmu.

Seni Menutup Laptop On Time

Salah satu ritual paling sakral bagi pekerja Gen Z adalah mematikan laptop tepat waktu saat jam kerja usai. Ini adalah langkah pertama untuk memisahkan kehidupan profesional dan kehidupan personal. Sayangnya, masih banyak yang merasa bersalah saat melakukannya karena takut dianggap tidak berdedikasi.

Baca juga: Kerja Capek Tapi Tetap Slay? Ini Rahasia Gen Z Atur Boundary dan Anti Burnout di Kantor!

Untuk meredakan rasa bersalah tersebut, kamu harus memahami pentingnya masa transisi setelah bekerja. Mengalihkan pikiran dari urusan kantor ke urusan personal membutuhkan proses yang disengaja agar malam harimu bisa digunakan untuk istirahat yang berkualitas dan memulihkan energi.

Baca juga: Seni Transisi Pikiran Sepulang Kerja: Panduan Mencegah Burnout dan Meraih Istirahat Berkualitas

Bahasa Kalcer Kantor: Kamus Slang Korporat Gen Z Terkini

Salah satu keunikan Gen Z yang sering mengundang tawa di media sosial adalah cara mereka berkomunikasi. Mereka berhasil mengubah istilah korporat yang kaku menjadi lebih santai, ekspresif, dan kadang sarkastik tapi tetap sopan. Yuk kita bedah beberapa kamus slang profesional ala Gen Z yang sering dipakai saat ini:

  1. "Let's circle back" menjadi "Nanti kita ghibahin lagi pas lunch ya, bestie." Ini digunakan untuk menunda pembahasan suatu topik yang belum menemukan titik terang dengan cara yang lebih santai.
  2. "Touch base" menjadi "Saling kabar-kabari ya biar nggak lost contact." Digunakan untuk menjaga komunikasi agar proyek tetap berjalan di jalur yang benar.
  3. "Per my last email" menjadi "Kan udah gue tulis jelas di email kemarin, coba dibaca lagi deh." Ungkapan halus untuk menegur rekan kerja yang kurang teliti membaca instruksi.
  4. "I will look into it" menjadi "Oke santai, nanti gue coba cek ya." Menunjukkan kesediaan untuk memeriksa suatu masalah tanpa terkesan kaku.

Gaya komunikasi yang kasual namun tetap bertanggung jawab ini terbukti bisa mencairkan suasana kantor yang tegang. Ketika jarak hierarki antara atasan dan bawahan bisa dijembatani dengan komunikasi yang lebih terbuka dan bersahabat, kolaborasi tim akan berjalan jauh lebih efektif dan minim miskomunikasi.

Sinergi HRD Modern: Menghargai Fleksibilitas dan Mental Health

Melihat pergeseran nilai-nilai kerja di kalangan anak muda, departemen HRD di berbagai perusahaan modern pun kini tidak bisa lagi menggunakan metode kuno yang kaku. Perusahaan dituntut untuk beradaptasi jika ingin menarik talenta-talenta terbaik dari generasi muda. Fleksibilitas kerja, seperti sistem hybrid atau Remote Working, kini bukan lagi sekadar fasilitas mewah, melainkan sebuah kebutuhan dasar.

Penerapan teknologi modern seperti aplikasi absensi berbasis kecerdasan buatan (AI) juga turut membantu menciptakan ekosistem kerja yang fleksibel namun tetap produktif. Dengan sistem absensi yang transparan dan mudah diakses, karyawan tidak perlu lagi merasa stres dengan birokrasi absensi manual yang rumit. HRD pun bisa memantau kinerja secara objektif tanpa harus melakukan micromanagement yang merusak kepercayaan karyawan.

Baca juga: Sinergi HR Modern: Mengoptimalkan Fleksibilitas Kerja dan Produktivitas dengan Absensi AI

Ketika perusahaan mampu memberikan keseimbangan antara produktivitas tinggi, fleksibilitas, dan perhatian mendalam pada kesejahteraan mental karyawan, maka loyalitas akan terbentuk dengan sendirinya secara alami. Karyawan akan merasa bahwa mereka bekerja di tempat yang memanusiakan manusia, bukan sekadar memeras tenaga demi keuntungan semata.

Kesimpulan: Slay di Kantor, Happy di Rumah!

Dunia kerja akan terus berubah, dan Gen Z telah membuktikan bahwa mereka mampu membawa perubahan positif ke arah yang lebih sehat dan seimbang. Menghindari burnout, menetapkan batasan yang jelas, serta memilih lingkungan kerja yang suportif bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kecerdasan emosional yang tinggi demi keberlanjutan karier jangka panjang.

Ingat ya, pekerjaanmu hanyalah bagian dari hidupmu, bukan keseluruhan hidupmu. Jadilah profesional yang bertanggung jawab, tetap berikan performa terbaikmu, tapi jangan pernah lupa untuk menyayangi dirimu sendiri. Mari kita bersama-sama membangun kultur kerja yang sehat, inklusif, dan tentunya tetap slay setiap hari!

Bagikan Artikel Ini

Bantu orang lain menemukan artikel bermanfaat ini